pH dan amonia adalah dua parameter air yang paling sering menjadi penyebab kegagalan budidaya ikan di kolam terpal. Fluktuasi pH yang ekstrem dan penumpukan amonia dapat membunuh ikan dalam hitungan jam, terutama pada kolam yang minim aerasi dan padat tebar tinggi. Mengontrol keduanya bukan soal keberuntungan, melainkan kombinasi pemantauan rutin, penyesuaian dosis yang tepat, dan pengelolaan sistem filter serta aerasi yang konsisten.
Mengukur dan Menjaga pH Ideal
pH ideal untuk sebagian besar ikan air tawar budidaya seperti nila, lele, dan mas adalah 6,5–8,5, dengan rentang optimal 7,0–8,0. Ukur pH minimal dua kali sehari, pagi dan sore, karena nilai ini berfluktuasi mengikuti siklus fotosintesis plankton. Pagi hari pH cenderung rendah, sore hari naik. Jika selisih pagi-sore lebih dari 1,0, berarti keseimbangan kolam bermasalah.
Untuk menaikkan pH yang terlalu asam (di bawah 6,5), gunakan kapur dolomit atau kalsium karbonat dengan dosis 10–20 gram per meter kubik air, dilarutkan lalu disebar merata. Untuk menurunkan pH yang terlalu basa (di atas 8,5), tambahkan molase atau gula fermentasi 5–10 gram per meter kubik, atau lakukan pergantian air 20–30 persen. Hindari penambahan bahan kimia keras secara langsung karena memicu stres pada ikan.
- Ukur pH setiap pagi dan sore dengan pH meter digital atau test kit.
- Catat fluktuasi harian untuk mendeteksi tren.
- Jaga alkalinitas air pada 50–150 ppm agar pH stabil.
- Hindari pemupukan berlebihan yang memicu ledakan plankton.
Mengendalikan Amonia yang Mematikan
Amonia muncul dari sisa pakan, kotoran ikan, dan urine. Pada pH tinggi dan suhu hangat, amonia berubah menjadi bentuk tidak terionisasi (NH3) yang sangat toksik. Kadar amonia aman adalah di bawah 0,1 ppm; di atas 0,5 ppm ikan mulai stres, dan di atas 1 ppm berisiko kematian massal. Sumber utama amonia adalah pemberian pakan berlebih dan minimnya sistem biofilter.
Langkah konkretnya: kurangi pakan 30–50 persen saat amonia terdeteksi, lalu lakukan pergantian air 30–50 persen dengan air baru yang sudah diendapkan. Tambahkan probiotik atau bakteri nitrifikasi seperti Bacillus sp. dengan dosis 5–10 gram per meter kubik untuk mempercepat konversi amonia menjadi nitrit lalu nitrat. Aerasi kuat wajib dinyalakan 24 jam, karena bakteri nitrifikasi butuh oksigen tinggi. Jika memungkinkan, tambahkan zeolit 1–2 kg per meter kubik sebagai adsorben amonia sementara.
- Periksa amonia dua kali seminggu atau setiap kali ikan terlihat lemas.
- Berikan pakan hanya sebanyak yang habis dalam 5 menit.
- Pasang aerator dan pastikan gelembung menyebar merata.
- Sifon dasar kolam setiap 3–5 hari untuk membuang endapan organik.
Aerasi dan Manajemen Air Terpadu
Aerasi bukan hanya soal oksigen, tetapi juga menentukan laju penguraian amonia dan stabilitas pH. Gunakan aerator atau blower dengan diffuser yang menghasilkan gelembung halus, dinyalakan penuh pada malam hari hingga pagi. Kombinasikan dengan sistem filter mekanis dan biologis sederhana dari ember atau tong berisi bioball dan dakron. Jaga volume pergantian air 10–20 persen per minggu, dan hindari pemberian pakan berlebihan saat hujan karena pH dan suhu berubah drastis.
Kunci pengendalian pH dan amonia di kolam terpal terletak pada rutinitas: ukur, catat, dan respons cepat sebelum kondisi memburuk. pH yang stabil dan amonia di bawah 0,1 ppm adalah fondasi kolam produktif. Dengan aerasi memadai, biofilter aktif, dan pakan yang terkendali, ikan tumbuh sehat tanpa perlu intervensi bahan kimia berlebihan.